Ketika membaca artikel di website, biasanya kita tidak membaca semua kalimat dari awal sampai akhir. Kita akan melihat judul, subjudul, poin penting, lalu mencari bagian yang paling sesuai dengan kebutuhan.
Struktur seperti ini membuat konten lebih mudah dibaca.
Dalam HTML dan SEO, struktur tersebut dapat dibuat menggunakan heading, yaitu elemen seperti H1, H2, H3, dan H4.
Heading bukan sekadar memperbesar ukuran tulisan. Heading digunakan untuk membentuk struktur dan hierarki sebuah halaman, sehingga pengguna dan search engine dapat lebih mudah memahami bagaimana sebuah konten disusun.
Misalnya sebuah artikel membahas SEO:
H1: Apa Itu SEO?
H2: Pengertian SEO
H2: Cara Kerja SEO
H3: Crawling
H3: Indexing
H3: Ranking
Struktur tersebut menunjukkan hubungan antara topik utama, subtopik, dan pembahasan yang lebih spesifik.
Lalu, apa itu heading dalam SEO? Apa fungsi H1, H2, H3, dan H4? Apakah heading memengaruhi ranking Google? Berapa kali H1 boleh digunakan? Bagaimana struktur heading yang benar untuk artikel WordPress?
Mari kita bahas.
Apa Itu Heading dalam SEO?
Heading adalah elemen HTML yang digunakan untuk memberikan struktur hierarkis pada konten sebuah halaman.
HTML menyediakan heading dari:
- H1
- H2
- H3
- H4
- H5
- H6
Semakin besar angka heading, semakin rendah tingkat hierarkinya.
Secara sederhana:
H1 → topik utama halaman
H2 → bagian utama
H3 → subbagian dari H2
H4 → subbagian dari H3
dan seterusnya.
Heading membantu membentuk struktur informasi yang lebih jelas.
Mengapa Heading Penting untuk SEO?
Heading memiliki beberapa fungsi penting dalam halaman.
Membantu Pengguna Membaca Konten
Pengguna dapat melakukan scanning dan menemukan bagian yang mereka butuhkan.
Membantu Memahami Struktur Halaman
Heading menunjukkan hubungan antara topik utama dan subtopik.
Membantu Accessibility
Screen reader dapat menggunakan struktur heading untuk membantu pengguna menavigasi halaman.
Memberikan Konteks kepada Search Engine
Heading merupakan salah satu bagian dari konten halaman yang dapat membantu search engine memahami topik dan struktur pembahasan.
Namun, perlu dipahami:
Heading bukan tombol untuk menaikkan ranking.
Menggunakan H1, H2, dan H3 dengan benar tidak otomatis membuat halaman berada di posisi pertama Google.
Apa Fungsi H1?
H1 adalah heading tingkat tertinggi dan biasanya digunakan untuk judul utama halaman.
Untuk artikel, H1 biasanya merupakan judul artikel.
Contohnya:
H1: Apa Itu Heading dalam SEO dan Bagaimana Cara Menggunakannya?
Kemudian pembahasannya menggunakan H2:
H2: Apa Itu Heading dalam SEO?
H2: Mengapa Heading Penting untuk SEO?
Dengan struktur tersebut, pengguna langsung memahami topik utama halaman.
Apakah H1 Harus Sama dengan SEO Title?
Tidak harus.
SEO Title dan H1 memiliki fungsi berbeda.
SEO Title merupakan title tag pada metadata halaman dan dapat digunakan Google sebagai sumber judul pada SERP.
H1 merupakan heading utama yang terlihat pada halaman.
Contohnya:
SEO Title:
Heading dalam SEO: Pengertian, H1-H6, dan Cara Menggunakannya
H1:
Apa Itu Heading dalam SEO dan Bagaimana Cara Menggunakannya?
Keduanya membahas topik yang sama tetapi dapat menggunakan formulasi berbeda.
Berapa Kali H1 Boleh Digunakan?
Dalam HTML modern, lebih dari satu H1 secara teknis dimungkinkan.
Namun, untuk struktur artikel dan praktik pengelolaan konten yang sederhana, satu H1 utama untuk satu halaman biasanya merupakan pendekatan yang paling jelas.
Terutama untuk artikel WordPress, gunakan H1 sebagai judul utama dan gunakan H2-H6 untuk struktur di bawahnya.
Dengan begitu, struktur konten mudah dipahami.
H1 Hanya untuk Judul Artikel
Untuk struktur artikel yang rapi:
H1 → judul artikel
Sedangkan bagian lain menggunakan:
H2 → bagian utama
H3 → subbagian
H4 → sub-subbagian
Jangan menggunakan H1 untuk setiap bagian artikel.
Contohnya kurang baik:
H1: Apa Itu Heading?
H1: Fungsi Heading
H1: Cara Menggunakan Heading
Lebih baik:
H1: Apa Itu Heading dalam SEO dan Bagaimana Cara Menggunakannya?
H2: Apa Itu Heading dalam SEO?
H2: Mengapa Heading Penting untuk SEO?
H2: Cara Menggunakan Heading
Apa Fungsi H2?
H2 digunakan untuk membagi halaman menjadi bagian-bagian utama.
Misalnya artikel tentang SEO:
H1: Apa Itu SEO?
Kemudian:
H2: Pengertian SEO
H2: Fungsi SEO
H2: Manfaat SEO
H2: Cara Kerja SEO
H2: Jenis-Jenis SEO
Masing-masing H2 merupakan bagian utama dari artikel.
Apa Fungsi H3?
H3 digunakan untuk membagi pembahasan H2 menjadi subbagian yang lebih spesifik.
Contohnya:
H2: Bagaimana Cara Kerja SEO?
Kemudian:
H3: Crawling
H3: Indexing
H3: Ranking
Ketiga H3 tersebut merupakan bagian dari H2 “Bagaimana Cara Kerja SEO?”.
Apa Fungsi H4?
H4 digunakan jika sebuah pembahasan H3 masih perlu dipecah menjadi bagian yang lebih spesifik.
Contohnya:
H2: Technical SEO
H3: Optimasi Crawling
H4: Sitemap XML
H4: Robots.txt
H3: Optimasi Performance
H4: Core Web Vitals
H4 tidak harus digunakan pada setiap artikel.
Gunakan hanya jika struktur kontennya memang membutuhkan tingkat hierarki tambahan.
Apakah H5 dan H6 Perlu Digunakan?
Bisa, tetapi jarang dibutuhkan untuk artikel biasa.
H5 dan H6 lebih relevan untuk struktur konten yang sangat kompleks.
Untuk sebagian besar artikel blog, struktur:
H1 → H2 → H3 → H4
sudah cukup.
Jangan menggunakan H5 atau H6 hanya karena ingin terlihat lebih “SEO”.
Heading Harus Mengikuti Hierarki
Salah satu prinsip penting adalah menjaga hubungan hierarki.
Contoh yang baik:
H1
→ H2
→ H3
→ H4
Kemudian kembali:
H3
→ H2
Contoh:
H1: Panduan SEO
H2: SEO On-Page
H3: SEO Title
H3: Meta Description
H3: Heading
H2: Technical SEO
H3: Crawling
H3: Indexing
Strukturnya mudah dipahami.
Apakah Boleh Langsung dari H2 ke H4?
Secara teknis HTML tetap dapat digunakan.
Namun, secara struktur informasi, lebih baik menghindari lompatan hierarki jika tidak diperlukan.
Contoh:
H2: Technical SEO
langsung:
H4: Sitemap XML
lebih membingungkan dibandingkan:
H2: Technical SEO
H3: Crawling
H4: Sitemap XML
Hierarki sebaiknya menggambarkan hubungan informasi yang sebenarnya.
Jangan Menggunakan Heading Hanya untuk Mengubah Ukuran Font
Ini merupakan kesalahan yang cukup umum.
Misalnya Anda ingin teks terlihat besar, kemudian memilih H2.
Padahal teks tersebut bukan heading.
Heading harus digunakan berdasarkan struktur informasi, bukan berdasarkan ukuran visual.
Jika hanya ingin memperbesar teks, gunakan CSS.
Jangan mengubah elemen semantik hanya untuk mendapatkan tampilan tertentu.
Heading dan CSS Adalah Hal yang Berbeda
Heading menentukan makna dan struktur.
CSS menentukan tampilan visual.
Misalnya:
H2 dapat dibuat:
- 24px.
- 32px.
- 40px.
Tergantung design system.
Ukuran font tidak menentukan apakah sebuah elemen harus menjadi H2.
Yang menentukan adalah fungsi dan hierarki kontennya.
Gunakan Heading untuk Membuat Konten Mudah Dipindai
Pembaca web cenderung melakukan scanning.
Mereka mencari:
- Judul.
- Subjudul.
- List.
- Kata penting.
- Tabel.
- Jawaban.
Heading membantu memecah artikel panjang menjadi bagian yang lebih mudah dipahami.
Misalnya artikel 2.000 kata tanpa heading akan terlihat seperti satu blok teks besar.
Dengan heading yang tepat, artikel menjadi lebih terstruktur.
Heading dan Search Intent
Heading juga dapat membantu memastikan artikel benar-benar menjawab search intent.
Misalnya pengguna mencari:
apa itu keyword dalam SEO
Struktur artikel dapat mencakup:
H2: Apa Itu Keyword dalam SEO?
H2: Mengapa Keyword Penting?
H2: Jenis-Jenis Keyword
H2: Bagaimana Cara Memilih Keyword?
H2: Kesalahan dalam Memilih Keyword
Struktur tersebut menunjukkan bahwa artikel menjawab kebutuhan pengguna secara bertahap.
Heading dan Keyword
Keyword dapat digunakan dalam heading jika relevan dan natural.
Misalnya target keyword:
technical SEO
H2:
Apa Itu Technical SEO?
Ini masuk akal.
Namun, jangan membuat:
H2: Technical SEO
H2: Technical SEO SEO
H2: SEO Technical SEO Terbaik
Keyword stuffing dalam heading tidak memberikan manfaat yang Anda harapkan.
Gunakan Variasi Keyword Secara Natural
Tidak semua heading harus menggunakan keyword utama.
Jika keyword utama:
SEO On-Page
heading dapat menggunakan:
- Apa Itu SEO On-Page?
- Elemen Penting dalam SEO On-Page
- Cara Mengoptimalkan Konten
- Optimasi Internal Link
- Kesalahan yang Sering Terjadi
Dengan begitu, struktur artikel tetap natural.
Heading dan Semantic SEO
Search engine modern tidak hanya melihat satu keyword.
Sistem pencarian juga memahami hubungan antar konsep.
Misalnya artikel tentang:
SEO On-Page
secara natural dapat membahas:
- SEO Title.
- Meta Description.
- Heading.
- Internal Link.
- URL.
- Image SEO.
- Search Intent.
- Content.
Heading dapat membantu menunjukkan hubungan topikal tersebut.
Heading dan Accessibility
Heading bukan hanya untuk SEO.
Heading sangat penting untuk accessibility.
Pengguna yang menggunakan screen reader dapat berpindah antarheading untuk memahami struktur halaman.
Karena itu, jangan membuat heading hanya berdasarkan tampilan.
Struktur heading harus masuk akal ketika dibaca tanpa melihat desain visual.
Jangan Menggunakan Heading untuk Setiap Paragraf
Heading bukan pengganti paragraf.
Contoh buruk:
H2: SEO
SEO adalah proses…
H2: Website
Website adalah…
H2: Google
Google adalah…
Jika setiap dua kalimat memiliki heading, struktur menjadi terlalu berlebihan.
Gunakan heading ketika memang ada bagian atau subtopik baru.
Gunakan Heading untuk Bagian yang Bermakna
Contoh artikel:
H2: Apa Itu SEO?
Paragraf penjelasan.
H2: Bagaimana Cara Kerja SEO?
Paragraf penjelasan.
H2: Apa Manfaat SEO?
Paragraf penjelasan.
Ini lebih baik daripada membuat heading untuk setiap kalimat.
Heading dan Panjang Artikel
Tidak ada aturan:
“Setiap 300 kata harus ada H2.”
Itu bukan aturan SEO.
Gunakan heading berdasarkan struktur pembahasan.
Artikel 500 kata mungkin membutuhkan beberapa heading.
Artikel 3.000 kata mungkin membutuhkan lebih banyak.
Yang penting adalah keterbacaan dan hierarki informasi.
Heading untuk Artikel Pendek
Contoh:
H1: Apa Itu SEO Title?
H2: Pengertian SEO Title
H2: Fungsi SEO Title
H2: Cara Membuat SEO Title
H2: Kesimpulan
Sudah cukup.
Tidak perlu memaksakan H3 jika memang tidak dibutuhkan.
Heading untuk Artikel Panjang
Artikel panjang membutuhkan struktur yang lebih dalam.
Contohnya:
H1: Panduan Lengkap SEO
H2: Apa Itu SEO?
H2: Cara Kerja SEO
H3: Crawling
H3: Indexing
H3: Ranking
H2: Jenis SEO
H3: SEO On-Page
H3: Technical SEO
H3: SEO Off-Page
H2: Cara Mengoptimalkan SEO
H3: Keyword Research
H3: Content Optimization
H3: Internal Linking
Struktur seperti ini membuat artikel lebih mudah dinavigasi.
Heading dan Table of Contents
Artikel panjang dapat menggunakan Table of Contents atau daftar isi.
Daftar isi biasanya mengambil struktur heading.
Contohnya:
- Apa Itu SEO?
- Cara Kerja SEO
- Jenis SEO
- Cara Optimasi SEO
- Kesalahan SEO
- Kesimpulan
Karena itu, struktur heading yang rapi juga membantu pembuatan daftar isi otomatis.
Heading dan Internal Link
Heading dapat membantu menentukan tempat yang tepat untuk internal link.
Misalnya:
H2: Apa Itu Technical SEO?
Kemudian pembahasan tentang sitemap dapat mengarah ke artikel:
Apa Itu Sitemap XML dan Bagaimana Cara Membuatnya untuk SEO?
Internal link seperti ini membangun hubungan antarhalaman dalam topic cluster.
Heading dalam Content Pillar
Untuk artikel pillar, heading sangat penting karena kontennya biasanya lebih luas.
Misalnya pillar:
H1: Apa Itu SEO, SEM, AIO, AEO, GEO?
Kemudian:
H2: Apa Itu SEO?
H2: Apa Itu SEM?
H2: Apa Itu AIO?
H2: Apa Itu AEO?
H2: Apa Itu GEO?
Setiap bagian dapat memiliki H3 untuk menjelaskan konsep yang lebih spesifik.
Dengan demikian, satu artikel pillar dapat menjadi pusat topik.
Heading dan Supporting Content
Artikel turunan sebaiknya memiliki fokus yang lebih spesifik.
Misalnya:
Pillar:
Supporting content:
Kemudian struktur artikel supporting content:
H1: Apa Itu SEO On-Page dan Bagaimana Cara Mengoptimalkannya?
H2: Apa Itu SEO On-Page?
H2: Mengapa SEO On-Page Penting?
H2: Elemen SEO On-Page
H3: SEO Title
H3: Meta Description
H3: Heading
H3: Internal Link
Struktur ini membuat hubungan topical menjadi lebih jelas.
Heading untuk E-Commerce SEO
Heading juga penting untuk halaman kategori dan produk.
Contohnya:
H1: Laptop Gaming
H2: Pilihan Laptop Gaming
H2: Cara Memilih Laptop Gaming
H2: Pertanyaan tentang Laptop Gaming
Namun, jangan membuat heading informasional yang tidak diperlukan hanya untuk menambahkan keyword.
Struktur harus membantu pengguna memilih produk.
Heading untuk Service Page
Contohnya:
H1: Jasa Pembuatan Website Perusahaan
H2: Mengapa Perusahaan Membutuhkan Website Profesional?
H2: Layanan yang Kami Sediakan
H3: Company Profile
H3: E-Commerce
H3: Web Application
H2: Proses Pengerjaan
H2: FAQ
Struktur seperti ini membantu pengguna memahami layanan.
Heading dan Featured Snippet
Heading dapat membantu membuat struktur pertanyaan dan jawaban lebih jelas.
Misalnya:
H2: Apa Itu Internal Link?
Kemudian paragraf pertama langsung memberikan definisi.
Namun, jangan menganggap penggunaan H2 otomatis membuat halaman mendapatkan featured snippet.
Google tetap menentukan hasil berdasarkan berbagai sistem dan faktor.
Heading dan SERP Feature
SERP modern memiliki berbagai fitur.
Contohnya:
- Featured Snippet.
- People Also Ask.
- Video.
- Image.
- Local Pack.
- AI features.
Heading dapat membantu menyusun jawaban untuk pertanyaan yang relevan, tetapi tidak menjamin halaman mendapatkan fitur tertentu.
Heading dan HTML Semantik
Heading merupakan bagian dari semantic HTML.
Elemen heading memberikan makna terhadap struktur konten.
Gunakan:
<h1>untuk heading utama.<h2>untuk bagian utama.<h3>untuk subbagian.<h4>untuk tingkat berikutnya.
Gunakan elemen HTML sesuai fungsinya.
Contoh Struktur Heading yang Baik
Misalnya artikel:
H1: Apa Itu Technical SEO dan Mengapa Website Membutuhkannya?
H2: Apa Itu Technical SEO?
H2: Mengapa Technical SEO Penting?
H2: Elemen Technical SEO
H3: Crawling
H3: Indexing
H3: Sitemap XML
H3: Robots.txt
H3: Core Web Vitals
H2: Cara Mengoptimalkan Technical SEO
H3: Audit Website
H3: Perbaiki Masalah Crawling
H3: Optimalkan Performance
H2: Kesalahan Technical SEO
H2: Kesimpulan
Struktur tersebut menunjukkan hierarki yang jelas.
Contoh Struktur Heading yang Kurang Baik
H1: Technical SEO
H3: Pengertian
H2: Crawling
H4: Googlebot
H2: Sitemap
H1: Kesimpulan
Masalahnya:
- H1 digunakan berulang untuk bagian biasa.
- H3 muncul sebelum H2 yang relevan.
- H4 tidak memiliki konteks H3 yang jelas.
- Hierarki tidak konsisten.
Apakah Heading Mempengaruhi Ranking?
Heading dapat memberikan konteks mengenai struktur dan topik halaman, tetapi heading bukan faktor ranking yang berdiri sendiri.
Jangan berharap:
“Saya memasukkan keyword ke H2, maka ranking naik.”
SEO tidak bekerja sesederhana itu.
Ranking dipengaruhi oleh banyak aspek, seperti:
- Relevansi.
- Search intent.
- Kualitas konten.
- Technical SEO.
- Internal linking.
- Authority.
- Page experience.
- Kompetisi SERP.
Heading membantu membuat halaman lebih terstruktur dan mudah dipahami.
Apakah Semua Heading Harus Mengandung Keyword?
Tidak.
Bahkan sebaiknya tidak.
Contohnya target keyword:
image SEO
Struktur heading dapat berupa:
H2: Apa Itu Image SEO?
H2: Mengapa Gambar Penting untuk SEO?
H2: Cara Mengoptimalkan Gambar
H3: Gunakan Nama File yang Deskriptif
H3: Optimalkan Alt Text
H3: Kompres Ukuran Gambar
Struktur tersebut jauh lebih natural.
Gunakan Pertanyaan sebagai Heading Jika Relevan
Pertanyaan dapat menjadi heading yang bagus ketika sesuai dengan search intent.
Contohnya:
H2: Apa Itu Meta Description?
H2: Apakah Meta Description Mempengaruhi Ranking?
H2: Berapa Panjang Meta Description yang Ideal?
Format ini juga cocok untuk artikel edukasi dan FAQ.
Namun, jangan membuat pertanyaan hanya untuk mengejar keyword.
Heading untuk Featured Content
Jika artikel memiliki bagian yang sangat penting, gunakan heading yang jelas.
Contohnya:
H2: Cara Membuat SEO Title yang Baik
Kemudian langkah-langkah:
H3: Tentukan Keyword Utama
H3: Pahami Search Intent
H3: Tulis Judul yang Natural
H3: Periksa Panjang Title
Struktur ini membantu pembaca mengikuti proses.
Kesalahan Heading yang Sering Terjadi
Menggunakan H1 untuk Semua Judul
Membuat hierarki tidak jelas.
Memilih Heading Berdasarkan Ukuran Font
Menggunakan H2 hanya karena tampilannya besar.
Melompat-lompat Secara Acak
Misalnya H2 langsung ke H5 tanpa alasan.
Memasukkan Keyword Berlebihan
Heading terlihat tidak natural.
Membuat Heading Terlalu Panjang
Heading berubah menjadi paragraf.
Terlalu Banyak Heading
Artikel menjadi terfragmentasi.
Tidak Menggunakan Heading pada Artikel Panjang
Konten sulit dipindai.
Heading Tidak Sesuai Isi
Pengguna mengharapkan pembahasan tertentu tetapi tidak menemukannya.
Cara Membuat Struktur Heading yang Baik
Gunakan langkah berikut.
1. Tentukan Topik Utama
Tentukan satu topik utama untuk halaman.
Gunakan H1 sebagai judul.
2. Pecah Menjadi Bagian Utama
Tentukan pembahasan utama menggunakan H2.
3. Pecah H2 Menjadi Subtopik
Jika sebuah H2 memiliki beberapa bagian, gunakan H3.
4. Gunakan H4 Jika Dibutuhkan
Jangan memaksakan H4 jika struktur belum memerlukannya.
5. Periksa Hierarki
Pastikan setiap heading memiliki hubungan yang jelas dengan heading sebelumnya.
6. Gunakan Keyword Secara Natural
Tidak semua heading membutuhkan keyword utama.
7. Periksa dari Sudut Pandang Pembaca
Baca hanya heading-nya.
Jika seseorang membaca daftar heading saja, apakah mereka sudah memahami struktur artikel?
Jika ya, struktur tersebut kemungkinan sudah cukup baik.
Heading dan WordPress
Pada WordPress, heading dapat dibuat melalui editor blok menggunakan blok Heading.
Untuk artikel:
- Judul halaman biasanya menjadi H1.
- Heading utama artikel menggunakan H2.
- Subheading menggunakan H3.
- Sub-subheading menggunakan H4.
Jangan mengubah heading menjadi H1 hanya karena ingin mendapatkan ukuran teks yang lebih besar.
Gunakan pengaturan typography atau CSS untuk kebutuhan visual.
Heading dan Page Builder
Jika menggunakan page builder, periksa struktur heading secara manual.
Page builder kadang memungkinkan pengguna memilih heading berdasarkan desain, bukan semantik.
Misalnya sebuah card menggunakan H2 karena tampilannya sesuai desain.
Padahal card tersebut mungkin hanya bagian dari daftar dan seharusnya tidak menjadi heading utama.
Design dan semantic structure harus tetap sejalan.
Heading dan Design System
Dalam design system, sebaiknya heading memiliki aturan yang jelas.
Contohnya:
- H1 → Page Title.
- H2 → Section Title.
- H3 → Subsection Title.
- H4 → Minor Section.
Ukuran visual dapat disesuaikan dengan kebutuhan responsive design.
Dengan demikian, struktur semantik dan visual tetap konsisten.
Checklist Heading untuk SEO
Sebelum menerbitkan artikel, periksa:
- H1 hanya digunakan sebagai judul utama halaman.
- H2 digunakan untuk bagian utama.
- H3 digunakan untuk subbagian.
- H4 hanya digunakan jika diperlukan.
- Hierarki heading masuk akal.
- Tidak ada lompatan heading yang membingungkan.
- Heading tidak dibuat hanya untuk mengubah ukuran font.
- Keyword digunakan secara natural.
- Tidak ada keyword stuffing.
- Heading relevan dengan isi.
- Artikel mudah dipindai.
- Struktur heading membantu accessibility.
- Heading konsisten dengan search intent.
- H1 relevan dengan SEO Title.
- Tidak ada heading kosong.
- Struktur heading sudah diperiksa di mobile.
Kesimpulan
Jadi, apa itu heading dalam SEO?
Heading adalah elemen HTML yang digunakan untuk membentuk struktur dan hierarki konten pada sebuah halaman. Heading terdiri dari H1 hingga H6, dengan H1 sebagai tingkat heading tertinggi.
Untuk artikel WordPress, struktur yang sederhana dan jelas biasanya:
H1 → Judul Artikel
H2 → Bagian Utama
H3 → Subbagian
H4 → Sub-subbagian jika diperlukan
Heading membantu pengguna membaca dan memahami artikel, mendukung accessibility, serta memberikan konteks tambahan kepada search engine mengenai struktur halaman.
Namun, jangan menganggap heading sebagai trik untuk mendapatkan ranking.
Memasukkan keyword ke H2 atau H3 tidak otomatis membuat halaman naik ke posisi pertama. Yang jauh lebih penting adalah struktur informasi, relevansi, search intent, kualitas konten, dan pengalaman pengguna.
Gunakan heading berdasarkan makna dan hierarki, bukan berdasarkan ukuran font. Jika ingin membuat teks lebih besar atau lebih kecil, gunakan CSS atau pengaturan typography.
Untuk artikel panjang, heading juga dapat membantu membangun content structure, table of contents, internal linking, dan content cluster.
Pada akhirnya, heading yang baik adalah heading yang ketika dibaca secara berurutan sudah dapat memberikan gambaran mengenai isi halaman.
H1 menjelaskan topik utama, H2 membagi pembahasan, H3 memperdalam subtopik, dan H4 digunakan ketika diperlukan untuk struktur yang lebih detail.
Dengan struktur heading yang konsisten, konten menjadi lebih mudah dibaca manusia, lebih mudah dinavigasi, lebih accessible, dan memiliki struktur informasi yang lebih jelas bagi search engine.

